Oleh-oleh Pulang Piknik

Belakangan ini Ibu punya agenda piknik cukup padat. Minggu lalu, Ibu piknik dengan ibu-ibu PKK rumah. Dan, kemarin Jumat, Ibu pamit piknik lagi dengan teman-teman semasa kuliahnya dulu. Tentu, minggu depan pun Ibu masih ada agenda piknik lainnya. 

Kadang saya suka tertawa sendiri kalau Ibu sudah mengrimkan foto-foto pikniknya. Saya tertawa bukan karena ada yang salah atau aneh. Tapi, saya tertawa karena pose foto Ibu terlihat sekali menunjukan 'ibu-ibu banget'.

Lihat saja foto di bawah, saya harap Anda bisa menyimpulkan apa itu 'ibu-ibu banget'. Ibu saya yang mengenakan topi warna putih.


Kerupuk Pemuas Rumah

Malam kemarin, sepulang piknik, Ibu tiba di rumah pukul 21.00. Biasanya sebelum sampai rumah, Ibu kerap japri untuk minta tolong direbuskan air hangat. Alasannya, agat Ibu tidak perlu repot harus menunggu air yang mendidih. Jadi, bisa langsung mandi dan lanjut istirahat.

Namun, baru kali ini Ibu tidak japri untuk dibuatkan air hangat. Tapi malah secara tiba-tiba sudah sampai di rumah. 

"Mas... Mas Dim... tolong keluar cepetan..." panggil Ibu dengan nada tinggi dari teras rumah.

Lantas, saya langsung sigap keluar dari kamar mandi tuk menghampiri Ibu. Begitu juga dengan Bapak.

"Piye, Bu? Kenapa?" Tanya saya yang sedang mengenakan handuk setengah badan.

"Ibu capek, Mas. Tolong bawakan kerupuknya ke dapur." Tutur Ibu sambil riweuh membawa tas gendong, tas selempang, tongsis, dan barang-barang apa pun yang sekiranya mendukung kegiatan piknik. Ini memang kebiasaan Ibu kalau sedang bepergian piknik.

"Hah? ini aja, Bu. Cuman kerupuk?" Sahut saya.

Seketika, saya dan Bapak langsung saling melirik. Yang pasti, waktu itu, kami sama-sama memasang wajah dongkol. 

Sayangnya, saya tidak sempat menanyakan kapada Ibu kenapa oleh-olehnya kerupuk pasir. Selain itu, kerupuk pasir yang dibeli Ibu ini terbilang cukup banyak untuk rumah yang hanya diisi tiga orang.

"Lah, nanti yang makan ini semua siapa, Bu? Koq banyak banget." Tanya saya, sebelum Ibu masuk ke dalam rumah.

"Ini buat stok sekalian, Mas. Kamu sama Bapak kan mesti rebutan. Jadi, ini nanti Ibu jatah satu-satu buat kamu sama Bapak. Wes nggak usah crigis..." jawab Ibu yang wajahnya sudah terlihat capek.

Setelah Ibu masuk ke dalam rumah. "Wah pengerten ya, Pak. Mung kenopo kudu kerupuk pasir ya? Lha nek ngene iki, balik piknik gak mesti nggowo klambi kotor numpuk. Mungkin kerupuk..." kata saya kepada Bapak sambil menyangking lima kerupuk.

Bapak tertawa, lalu terdiam sejenak. Sejurus kemudian, Bapak langsung minta jatah kerupuk yang ada pada tangan saya.

"Bukak siji, Mas, kerupuke."

"Lololo... enak-enakan. Ijin sek mbe Ibu." Bantah saya dan memilih langsung meninggalkan Bapak demi mengamankan kerupuk itu.

Sebelumnya, saya pernah menulis tentang tingkah Ibu di artikel lain. Saya juga pernah menulis tentang hal absurd gara-gara toples kerupuk, simak di artikel lain.


Komentar

Postingan Populer