Tak Selalu Bahagia, Tak Juga Nelangsa
Hari ini adalah hari pernikahan Ibu dan Bapak. Mereka telah melewati masa-masa pernikahan selama 32 tahun. Tak sepenuhnya bahagia, pun juga, tak sepenuhnya nelangsa-nelangsa banget. Relatif. Selayaknya keluarga sederhana lainnya yang dipenuhi dinamika misteri akan hari esok. Dalam kenangan kecilku, yang saat ini masih kuingat, aku dan mbakku pernah menangis histeris bersama. Saat itu Bapak memberikan kabar kalau ibukku terkena kanker payudara. Kala itu yang kutahu kalau orang terkena kanker hidupnya tak akan lama. Aku punya pengetahuan itu gara-gara sering menonton sinetron di televisi. Sialan. Tentu apa yang kami lakukan hanyalah berserah dan saling menguatkan. Mbakku, saat itu masih SMA, dengan keinginannya sendiri, memilih untuk mengambil sambilan pekerjaan untuk meringankan kondisi keluarga. Dan aku? Aku hanya bisa menemani Ibu di rumah. Melihat rambutnya yang rontok satu per satu di lantai. Lalu bapakku bekerja sekeras mungkin. Menjual apa saja yang bisa dijual. Hingga akhir...
.webp)








