Alfonsus Bayu Melawan Pertamina


Sejak 2023, saat masa-masa harga BBM tak masuk akal, Bayu mulai memilih sepeda untuk menjadi transpotasi utama sehari-hari dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa mempertimbangkan medan jalan dan cuaca.

Selain irit dan bebas dari pajak, baginya, bersepeda adalah simbol melawan pertamina dan pemerintah.

Namun sayangnya, kota ini tidak didesain untuk pesepeda seperti Bayu atau bakul roti Swiss House sekalipun, karena tidak adanya jalur khusus sepeda. Ditambah, kesadaran antar sesama pengguna jalan yang terkadang membahayakannya.

"Aku pernah dipepet karo motor dan diklakson harang, padahal sepeda kih lambat. Terus sing numpak mobil dan truk tapi banter juga bahaya, karena maraki iso oleng," katanya sambil geleng-geleng kepala.

Tapi, seiring berjalannya waktu, Bayu mencoba memaklumi itu semua. Anggapannya, karena mereka mungkin memiliki standar ideal berkendara yang baik hanya pada sesama motor atau mobil.

Ya, kota ini memang betul-betul tidak didesain untuk pesepeda.

Di samping itu, dengan lajunya yang lambat, Bayu justru bisa menyaksikan sisi paradoksal dari kota ini.

Kota yang dulunya sempat memiliki slogan 'setara' dan kini lebih dikenal dengan 'hebat' itu, nyatanya masih dipenuhi oleh tunawisma, orang kelaparan, dan eksploitasi anak di berbagai sudut.

"Aku pernah tiba-tiba dicegat wong ning dalan, dan ternyata, wong kuwi ngelih." ujarnya.

Dari kisah itu, Bayu jadi mengerti kalau kemiskinan dan anak-anak putus sekolah bukan sepenuhnya salah mereka, melainkan akses bantuan pemerintah yang arahnya tidak jelas.

"Pokoke semakin kowe bersepeda, semakin kowe mengerti betapa tidak pedulinya pemerintah karo masyarakat," tuturnya dengan perasaan mangkel.

Entah, di usia berapa, Bayu akan berhenti bersepeda. Tapi aku, sebagai teman ngopi, mengenalnya sebagai orang yang teteg ati dalam mengambil keputusan hidup tanpa harus tunduk pada sistem sosial yang terbentuk.

Maka, teruslah bersepeda dengan sunyi dan melawan, selemah-lemahnya iman.

Komentar

Postingan Populer