Tesis Ini Nantinya untuk Siapa?

Kukira kuliah yang baik adalah kuliah yang selesai. Tapi pernyataan itu akan terdengar dangkal dalam lingkup kuliah hari ini.

Saat pembekalan mahasiswa baru, bulan lalu, kampus memberikan beberapa informasi persyaratan yang harus dipatuhi mahasiswa magister, salah satunya menerbitkan jurnal. 

Minimal terbit di sinta 4, namun ditekankan untuk tembus ke Scopus dan menjadi penulis pertama atau kedua.

Selain itu, ada pernyataan lain dari dosen saat mulai perkuliahan awal-awal, yaitu bikinlah tesis yang "bermanfaat bagi siapa".

Sejujurnya, aku tak begitu peduli dengan persyaratan itu. Bahkan, aku tak mempunyai ambisi untuk menempuh hingga Scopus.

Rasanya aku sudah capek untuk berambisi maupun bermimpi. Sewajarnya saja.

Mungkin tak ada salahnya juga menjadi mahasiswa medioker. Oh, maksudku, menulis artikel jurnal di sinta 4 itu sudah cukup.

Akan tetapi, pernyataan dosen kala itu, yang sebenarnya patut kupertimbangkan. Lebih jauh lagi, selama ini aku tak pernah tahu hidupku kutaruhkan untuk siapa.

Yang kutahu hanyalah, "aku tengak-tenguk, maka aku ada" atau "aku kuliah, maka aku ada", sebatas itu saja.

Jadi, sampai sekarang, aku masih belum tahu menulis tesis apa dan nantinya kupersembahkan untuk siapa. 

Aku agak khawatir juga kalau keinginan untuk membuat sesuatu yang “bermanfaat bagi siapa” justru membuatku terjebak dalam heroisme kecil-kecilan sebagai mahasiswa: merasa tesis harus menyelesaikan persoalan besar, menyelamatkan kelompok tertentu, atau setidaknya meninggalkan sesuatu yang monumental.

Hmm... Kayaknya ada benarnya kata orang-orang di Threads: "Lebih baik tidur yang cukup daripada mikir soal tesis atau tugas kuliah."

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer