Perkara Nasi Bungkus Bikin Konflik Horizontal
Sore tadi, sehabis kerja, langsung terbesit pengin makan di angkringan kucingan dekat rumah. Angkringan itu cukup terkenal dan salah satu favoritku.
Mungkin keunggulannya karena gorengan dan satenya bisa dibakar. Kalau kata food vlogger bisa meningkatkan level citra rasa: kayak ada smoky-smoky-nya.
Dan setiap mampir ke situ biasanya bisa habis dua nasi bungkus, satu sate, dan dua gorengan. Tapi kalau ada duit lebih, jelas makin kalap lagi.
Pokoknya kalau makan di kucingan itu sebisa mungkin tangan kiri jangan sampai menganggur atau tidak pegang apa-apa.
Tapi pas tadi mau ambil nasi kedua, tiba-tiba ada tangan yang nyerobot dari belakang. Gesit sekali. Padahal nasi itu sudah kuincar sejak suapan pertama nasi sebelumnya.
"Sampeyan agamane apa?" tanya pembeli yang tangannya gesit itu pada penjual. Dan aku langsung mengernyitkan dahi karena pertanyaannya.
Segera mungkin penjual kucingan menimpali pertanyaan itu dengan pertanyaan balik. "Islam. Lha pripun?" sahutnya.
"Lha iki Al-Quran kenapa didadike bungkusan sega!"
"Al-Quran seka ngendi? Iki kih buku pelajaran cah cilik," bantah penjual dan sempat-sempatnya menerjemahkan huruf Arab itu.
"Sek-sek... Bukan meh sok suci apa piye, tapi yen sampeyan Islam kudune paham."
Lalu pembeli itu langsung mengambil hape dalam sakunya, dan memfoto nasi bungkus tersebut.
"Yowes, ngene wae, sampeyan arep tuku ora?"
"Jane arep tuku akeh, mung bungkusan ngene iki sing maraki wegah. Tak bayar sing iki-iki wae!"
Setelah pembeli membayar dan pulang dengan kesal, penjual langsung menata ulang nasi-nasi yang berantakan tadi. "Halah. Sing tuku ora ming wong kuwi tok," sambatnya.
Memang, ternyata konflik bisa berangkat dari hal kecil. Di samping itu, nasib naas buku kita bukan lagi hanya dibakar dan disita, tapi sampai jadi bungkusan nasi kucing.
Sayang, tahu begitu waktu gegeran selesai, kedua orang itu mending tak ajak tepuk sakinah, dan barangkali amarah mereka mereda sekalipun bukan pasutri.
Tapi kan, tepuk sakinah bisa jadi ice breaking disela-sela begini, to?
Ah, sudahlah.



Komentar
Posting Komentar