Jangan Berhenti, Sekalipun Hanya Berjalan
Hidup benar-benar menjadi hitungan matematis yang menyakitkan hingga saat ini.
Di era Jokowi, aku pernah menjadi sarjana menganggur. Luntang-luntung. Segala ikhtiar rasanya sudah kutempuh. Tapi nihil hasilnya.
Bahkan, tiga tahun lalu, aku pernah menempuh jalan kaki dari Semarang hingga Ambarawa untuk mengalihkan rasa stres yang berlebih.
Kegiatan itu terinspirasi dari tradisi peregrinasi yang lekat dengan Santo Ignatius Loyola. Berjalan jauh tanpa bekal, dan sebisa mungkin mengandalkan welas asih dari orang-orang yang ditemui di perjalanan.
Jadi, foto di atas adalah wujud kaki dari kawanku, Vio, saat berjalan kaki selama kurang lebih satu hari. Kumuh. Rasanya seperti gembel jalanan. Dan badan bau keringat bercampur matahari yang menyengat.
Lalu, memasuki era Prabowo, aku terkena PHK sepihak di tahun lalu secara mendadak. Dalih kantor waktu itu adalah "efisiensi". Menyedihkan. Aku terpaksa pulang ke Semarang dengan kabar menganggur lagi, dan pekerjaanku sekarang adalah serabutan.
Tapi beruntungnya, rezeki seperti datang dari mana saja. Tiba-tiba dapat angpao, tiba-tiba bisa makan dan ngopi gratis. Mungkin ini bagian dari indahnya pertemanan.
Barangkali juga, di masa-masa sekarang, beberapa orang akan melakoni pekerjaannya dengan misuh-misuh atau menangis sebagai bentuk melepaskan tekanan, dan bisa jadi cemas berkepanjangan karena kabar berita yang sering kali menyatakan cari kerja itu lagi sulit.
Sehat terus, kalian para pencari kerja.
Kita mungkin akan selalu berhadapan dengan kesunyataan hidup yang tak berpihak. Sebab negara ini memang terkadang kelewat berengsek dan memperpendek usia. Tapi janganlah menunduk.



Hiduplah hidup, syukurlah syukur.
BalasHapus