Masih Ada Cara Lain Mencuri Waktu
"Aku musti mencuri ilmu di luar kota," katanya.
Bukankah di sini kau sudah mendapatkan banyak hal. Jikalau kau pergi, berarti meninggalkan semua yang pernah kau temui. Tugu ini, angkringan, rumah, dan mungkin tempat melamun andalan.
"Aku mencuri karena butuh," bantahnya.
Kau terlalu ambisius. Kau pasti lupa, kalau kita pernah sama-sama membaca buku dengan penulis yang sama. Itu pun, kau yang memberikan buku itu kepadaku.
"Sialan. Apa yang kau maksud?" Tanyanya.
Buku demot. Ya, buku itu. Buku melawan orang-orang yang ambisius, gila kesuksesan, gila harta dan tahta. Saat ini, yang terlintas dipikiranku hanyalah tulisan, “keinginan untuk menjadi kaya dan sukses adalah bibit keserakahan.” Kau ingin kaya dan sukses?
Coba tengok lampu merah yang menyala di tugu itu…
“Lantas?”
Lampu itu bekerja sesuai porsinya. Pagi, dia mati. Siang, dia mati. Menjelang petang, baru dia akan menyala. Mentok-mentok tugasnya hanya untuk mengindahkan tugu itu saja. Tidak lebih. Lagipula, dia juga tidak begitu terang bila dibandingkan lampu pinggir jalan.
Etos kerjanya biasa, tapi istimewa.
Lantas, untuk apa kau musti pergi jauh hanya sekadar ilmu. Hidup ini sudah ada pemenangnya, dan kau sudah kalah. Naasnya, kau kan sudah ditakdirkan untuk meneruskan gairah orang tua.
“Kawan, buku itu memang benar. Takdir itu, juga memang benar adanya. Sekarang, hanya ini yang bisa aku pilih. Jauh sejenak, dan menghabiskan apa yang aku miliki. Setelah itu aku pulang,” katanya.
“Kau sepertinya tak tahu apa yang aku maksud. Aku mencuri semua ilmu di sana karena ingin mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di kota ini. Masihkah ini terdengar ambisius?” Lanjutnya.
Bagaimana kau bisa menyimpulkan itu, sedangkan kau belum mengenal dekat kota ini. Aku rasa, kau mulai terobsesi dengan luar. Kau sedang berkilah ya?
“Percayalah. Aku yakin ini tidak akan berlarut-larut. Sejenak saja. Aku rasa, ilmu yang ku tempuh esoknya akan membantuku untuk berpikir logis dan analitis,” pembelaannya.
Baiklah, aku tak akan menghalang. Asal kau tahu, aku sebenarnya hanya takut. Aku takut kau tidak kembali. Aku takut bahasa yang kau gunakan tak mudah ku pahami. Aku takut jika kau menjadi orang-orang yang selalu mengagungkan kota lain.
“Tampaknya, sekarang giliran kau yang lupa. Aku ini sedang bergurau. Selama ini apa yang aku rencanakan, kan selalu membelok dan berujung improvisasi. Memangnya, ada takdir yang bisa dirubah?” Tuturnya.
Terserah kau ingin berdalih apa saja malam ini. Sebab, kau sekarang sudah menenggak satu botol miras sendirian. Bukankah, orang mabuk akan selalu berkata jujur?



Komentar
Posting Komentar