Ibu untuk Semua Orang


Dihadapan patung yang biasa saya panggil, Ibu. Saya berani berbicara apa pun yang terbesit di kepala. Apa pun itu, baik nafsu, kebencian, atau keangkuhan. Dan hal-hal pujian baik malah justru jarang saya utarakan. 

Ibu ini berbeda dengan Ibu yang mengasuh di rumah.

Bila Ibu yang mengasuh, ketika saya membutuhkan sesuatu, dia bisa bilang ya atau tidak. Akan tetapi, jika menjawab tidak, saya bisa memperdebatkan dihadapannya langsung.

Tapi kalau Ibu yang ada dihadapan sekarang. Dia hanya mendengar, sama sekali tak memberikan ekspresi. Jangankan ekspresi, kepastian pun belum tentu terjadi hari itu juga. Meskipun begitu, saya sesekali tetap menyambangi rumah kecilnya. Entah, saya tidak tahu alasan kuatnya, kenapa masih tetap mau duduk dihadapan-Nya.

Satu hal lagi, Ibu ini satu untuk semua. Jadi tidak hanya untuk saya.

Maka wajar saja kalau permintaan, bahkan sambatan saya yang banyak ini tak segera di-iya-kan. Ya, itu tadi, dia "Ibu untuk semua orang". Bayangkan, Ibu yang mengasuh saya saja terkadang kewalahan (padahal cuma punya dua anak). Lalu, bagaimana dengan Ibu yang ada dihadapan saya sekarang?

Tapi kenapa Ibu tak berekspresi ini lama sekali untuk memberikan kepastiannya? Padahal, kan, mudah. Tinggal ya atau tidak. Sialan.

Atau jangan-jangan, Ibu tidak suka. Karena saya terlalu crigis dan kebanyakan meminta. Tapi, kan, saya kalau meminta sesuatu selalu dengan sopan. Dimulai dari tangan kanan menyentuh dahi, kemudian ke dada tengah, dada kiri, dan yang terakhir dada kanan. Seperti orang-orang yang biasa lakukan kalau sedang ingin bertemu dengan-Mu.

Lama-lama semakin menyebalkan kondisi seperti ini.

"Bu, Ibu, anakmu lagi nelangsa. Mbo, yo, diemong ndhisik tho, Bu..."

Sebentar, saya berhenti sejenak untuk melamun beberapa menit.

Sudah. Ya, ini adalah kebodohan dan kemalasan.

Ternyata saya melupakan sesuatu.

Dan, sekarang saya menemukan. "Ora et Labora".

Komentar

Postingan Populer