Prinsip Enem-Sa


Buku “Urip Prasaja: Menjadi Pribadi Sederhana” ini merupakan kumpulan tulisan dari Romo Agustinus Mintara, SJ, dengan beberapa saudaranya. Sebenarnya, buku ini ditujukan untuk mengenang 1000 hari alm. Pak Hubertus Djamulya atau Pak Jomul.

Pak Jomul ini merupakan Bapak dari Romo Mintara. Ringkasnya, buku yang tidak begitu tebal ini, sebetulnya berisikan kisah-kisah Pak Jomul yang 'opo anane'. Tentu, merasa beruntung bisa menemukan dan membaca bukunya.

Dalam buku tersebut, ada salah satu pesan Pak Jomul ke anaknya yang berujung menuntun saya untuk menulis di sini. Begini pesanya: “Jangan jadi orang kaya kalau hanya untuk diri sendiri tanpa bisa berbuat sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan.”

Pada akhir kisah, Romo Mintara menuliskan, jika kematian adalah kepastian dan bukanlah hal yang untuk ditakuti. Maka, sewaktu-waktu kita akan mati dan menghadap Tuhan di dunia yang lain.

Sementara itu, ada celotehan tengil yang disampaikan oleh Syarif Maulana: “Satu-satunya keharusan dalam hidup adalah keharusan untuk mati.” Oleh karena itu, pada akhirnya kita semua sebenarnya adalah orang-orang yang sudah divonis mati. Jadi, bukan hanya Ferdy Sambo saja toh? Maka, untuk menjadi orang kaya apakah sebuah keharusan apabila ujungnya mati?

Sekejap kemudian, saya langsung teringat ucapan dari Gus Aflakha Mangkunegara. Ia mengatakan, orang kaya semestinya orang yang tidak perlu mencari uang lagi tapi sejatinya adalah orang yang bisa ‘menerima’. Jadi, sifat kekayan yang dimakasud Gus Aflakha hanyalah sesaat. Dengan kata lain, jika orang kaya itu sudah mendapatkan keinginannya, nantinya orang kaya ini akan mencari lagi keinginan lainnya lagi.

Namun, yang perlu digaris bawahi adalah dalam keberlangsungan hidup ini kita akan terus beririsan dengan ‘karep’ atau ‘keingingan’. Jadi suatu karep ini bahwasanya tidak memandang kelas sosial mana pun, baik itu si miskin dan si kaya.

Ki Ageng Suryomentaram mengartikan, apabila sifat keinginan adalah untuk dipuaskan, dituruti, dan mencari sesuatu yang menyenangkan. Maka, sifat keinginan ini juga tidak akan ada ujungnya karena didapatkan hanya untuk sementara atau semu. Dengan kata lain, sudah mendapatkan apa yang dinginkan pada ujungnya hanya senang sesaat. Kalau tidak dapat atas apa yang diinginkan, ujungnya juga hanya sedih sesaat.

Setelah mencoba untuk menyelami apa itu ‘karep’ yang dijabarkan oleh Ki Ageng Suryomentaram. Lantas, saya membantin, apakah ‘karep’ ini bisa dikendalikan? Untuk menjawab pertanyaan pribadi, saya terus mencoba merefleksikan sepanjang waktu.

Lambat laun, pada akhirnya saya menemukan jawabannya. Dalam buku “Nusantara Berkaca: Catatan dari Langgar 2021” yang berisikan kumpulan dari beberapa penulis lepas, salah satunya adalah Kukuh Aji. Ia menuliskan: “Jika untuk menghadapi ‘karep’ perlu dilandasi dengan prinsip Enem-Sa (Sabutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sabenere, Sapenake, Samestine)”. Dalam arti, setiap ‘karep’ yang berdatangan itu perlu disaring dengan prinsip tersebut. Karena agar benar-benar menjadi ‘karep’ yang berdampingan dengan kebutuhan hidup.

Komentar

Postingan Populer