Tidak Ada Pesta Perpisahan, Adanya Pesta Cerita

Bisa dibilang kami dipertemukan karena memiliki kegiatan yang sama. Pada intinya, kami sama-sama menyukai kegiatan menulis, entah itu bagian dari rutinitas sampingan atau malah suatu pekerjaan. Saya juga tidak tahu pasti, apakah menulis itu perihal yang susah atau mudah. 

Saya sempat baca wawancara tertulis dari seorang jurnalis musik, Dom Lawson namanya. Mungkin ini bisa menjadi pertimbangan. Lawson bilang, jika sekarang nyaris semua orang bisa membuat video atau podcast. Namun, tidak banyak orang yang bisa ‘menulis panjang’ dan ‘enak dibaca’. Tolong jangan tanyakan apakah saya sepakat atau tidak, jika dipaksa untuk menjawabnya saya cuma bisa kasih tanggapan yang tidak akan ada ujungnya: “semua itu tergantung ke orangnya koq. Asal mau belajar. Hehe…”

Dalam pertemuan sore tadi, kami membicarakan banyak hal. Yang pasti tidak jauh dari konteks menulis dan buku. Dimulai dari saling menyampaikan ulasan terkait buku yang terakhir dibaca, tokoh-tokoh penulis, dan dilanjut mengapa kami mesti menulis. Semua itu perlu dibicarakan karena kegiatan menulis dan membaca adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, toh?

“Bukan mitos bila seorang penulis adalah seorang pembaca. Sebuah tulisan yang matang, lahir dari cakrawala bacaan penulisnya. Sebuah tulisan menunjukkan ‘jalan baca’ penulisnya.” Begitu kata Akhmad Fauzi dalam salah satu artikelnya di Langgar.co.

Kurang-lebih ada lima orang yang diberikan kesempatan untuk menjelaskan mengapa ia mesti menulis. Sayangnya, saya hanya mampu mengingat sedikit terkait alasan atau tujuan teman-teman menulis. Hanya ada dua nama yang bisa saya cantumkan di sini.

Bagi Mas Robbi, menulis adalah sebagai wadahnya untuk mengekspresikan diri. Kemudian, juga menjadi untuk mengatur tingkat emosinya. Sedangkan, menurut Mas Teguh, menulis diibaratkan seperti bersedekah. Katanya, sedekah tidak semestinya berwujud harta akan tetapi dengan menuliskan hal-hal baik dan menyebarkannya juga merupakan bagian dari sedekah. Tabik.

Ada juga menulis semacam untuk mengelabuhi si pembaca. Yang artinya, dengan gaya penulisan yang dikemas secara fiksi ini justru sebenarnya malah menjadi kisah nyata yang dialami penulis. Mungkin ini bisa disebut dari yang namanya curhat (curahan hati). Hmm…

Sementara untuk saya sendiri menulis hanyalah untuk menjadi satu saksi bahwa rutinitas butuh dijeda dengan pemaknaan. Bukankah, hidup yang tidak mudah ditebak ini akan menjadi singkat jika dilalui dengan diburu-buru? Kalau kata Perunggu, “melamban bukanlah hal yang tabu, kadang itu yang kau butuhkan.”

Sebelum menutup tulisan ini, saya ijin kasih demotivasi ke teman-teman lagi. Begini kata Setyo Wibowo: “meski menuliskan sesuatu tidak mengubah apa-apa, lebih baik tetap menulis. Karena kalau tidak menulis, jangan-jangan terjadi apa-apa.”

Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya! #PestaCerita30hbc23

Komentar

Postingan Populer