Tulisannya Begini, Penyampaiannya Begitu

 


Setidaknya ini adalah salah satu pengalaman yang menarik semasa kuliah. Sore tadi, saya diajak dosen (lebih tepatnya dosen pembimbing) untuk menjelaskan di jam perkuliahannya mengenai apa itu analisis resepsi dan bagaimana cara bekerjanya. Kebetulan saat ini skripsi saya sedang membahas tentang itu.

Singkatnya, analisis resepsi ini merupakan kajian untuk mempelajari bagaimana khalayak pembaca memaknai sebuah pesan atau kode yang disuguhkan oleh media.

Tapi, di sini saya tidak akan menceritakan lebih mendalam mengenai isi penelitiannya, plus bagaimana bekerjanya. Karena kalau nanti saya ceritakan, bisa-bisa habis dua gelas kopi di teras rumah. Repot.

Namun, yang saya soroti hari ini adalah ternyata menjelaskan di depan dengan cukup banyak orang itu susah juga. Menyusun penelitiannya saja susah, apalagi menyampaikan. Mumet-mumet.

Sebelum kelas dimulai, beberapa kali saya kepikiran bagaimana menjelaskan tulisan yang ilmiah ini agar bisa mudah dipahami dan disampaikan ke teman-teman kuliah (angkatan 20 – semester 5). Karena saya merasa jika penelitian ini dijelaskan terlalu ilmiah, takutnya akan terdengar membosankan.

Setelah memasuki kelas, badan saya langsung seperti sumber mata air. Kemudian, disusul gerakan-gerakan pantat yang menggesek kursi ke kanan-kiri, dan terus berulang-ulang. Terkadang sesekali dipikiran muncul, “ngomong opo ya? Mengka nek do ra mudeng piye ya?

Mungkin ini bisa dibilang, seperti sempro (seminar proposal) tapi babak kedua. Yang membedakan hanya kostum dan lawan bicaranya saja. Namun yang di babak kedua ini, di luar ekspetasi saya, ternyata banyak teman-teman yang penasaran sekaligus menanyakan bagaimana bisa seperti itu. Baiklah.

Sesekali saya juga melihat raut wajah teman-teman. Ada yang mengerutkan dahi, tatapan kosong, memanyunkan bibir, menggaruk kepala berkali-kali, dan yang terakhir menganggukan kepala. Entah, gestur-gestur itu tandanya paham atau tidak. Saya hanya bisa menyimpulkan, setidaknya dia tidak berisik. Kalalu ternyata artinya memperhatikan, itu bonus bagi saya.

Sebagai bentuk untuk memenuhi kepuasaan. Tentu saja saya menggunakan cara-cara template ketika dosen mengajar dengan cara menanyakan adakah pertanyaan atau tidak, dan apakah sudah cukup paham. Haha… Klasik… 

Padahal sebenarnya mahasiswa kalau dilemparkan pertanyaan seperti itu, kemudian menjawab "paham" akan ada dua maksud tertentu: antara biar kuliahnya cepat kelar atau memang betul-betul paham. Jadi, kalau mahasiswa bilang "paham" coba Pak atau Bu diuji saja pemahamannya. Haha...

Menurut saya, sebuah penelitian yang baik itu mungkin tidak hanya akan kaya data-data dan fokus pada objek dan subjek yang dituju. Melainkan juga bisa dijelaskan secara luwes dan lugas sekaligus dengan bahasa-bahasa yang mudah dipahami.

Kalau mencoba memutar rekaman ingatan tadi sore, saya sepertinya tidak memenuhi itu. Cuma mau bagaimana lagi, ini juga masih permulaan. Kalau permulaannya sudah langsung mulus rasanya akan terdengar aneh, mudah puas, dan membuat belagu. Dasar manusia.

Selain ketakutan-ketakutan tentang apakah teman-teman ini paham atau tidak. Ada juga ketakutan kalau apa yang saya sampaikan ternyata malah salah kaprah. Alamat remuk kalau ternyata begitu. Cuma, ya itu tadi, ini kan hanya permulaan saja. Santai, masih ada hari esok~

Justru, sekarang saya malah kepikiran kayaknya menjadi dosen itu mesti bertanggung jawab akan hal-hal apa yang selama ini ajarkan kepada mahasiswa, ibarat kata “lha, kata dosen ku gitu koq”. Kemudian, mesti mobat-mabit, dituntut terus berpikir, dan lain sebagainya. Pokoknya hal-hal yang mengacu Tri Dharma Tinggi itu seperti terkesan melelahkan.

Intinya, menyenangkan dan nagih!


Komentar

Postingan Populer