Akhir Oktober
Tepat akhir bulan Oktober, Bapak menerima surat keputusan pensiun. Bapak sudah menempuh 31 tahun menjadi dosen tidak tetap di Unika Soegijapranata. Gedung-gedung yang didominasi warna ungu itu juga menjadi tempat saya belajar (dan akan selesai belajar hingga waktu yang ditentukan).
“Sudah 31 tahun di Unika dan melayani tujuh rektor. Melakukan pelayanan dan perutusan dengan sukacita. Hidup dengan sukacita artinya sepenuh hati: selalu bersyukur, selalu berbagi, dan penuh keterbukaan dan dinamis.” Begitu kata Bapak, yang tertulis di laman website Unika Soegijapranata.
Beberapa teman kampus mengatakan kepada saya apabila cara mengajar Bapak ini terbilang unik. Tipekal dosen yang menjelaskan teori terlebih dahulu kemudian menyangkutkan dengan pengalaman nyata atau pribadinya. Itu, kata teman. Padahal kalau ingin membicarakan ketidaknyamanan saat diajar dengan Bapak, sebetulnya saya tetap terima-terima saja. Akan tetapi, kalau memang banyak yang memberikan respon positif. Syukurlah kalau begitu.
Bapak adalah orang yang disiplin, dalam hal apa pun itu. Tak heran bila Bapak sangat menjunjung sikap tersebut, karena Bapak mengajar mata kuliah Pengantar Manajemen dan Protokoler. Sudah selayaknya dan sepantasnya.
Sayangnya, kedisiplinan itu tidak menular pada anak bungsunya. Contoh kongkretnya: Bapak sudah pensiun, dan saya belum lulus-lulus. Saya mengira, hadiah yang terbaik ketika Bapak pensiun adalah anaknya lulus.
Ternyata perkiraan saya salah kaprah. Kemarin, di grup WhatsApp keluarga besar, Bapak mengirimkan foto saya sewaktu seminar proposal skripsi (sempro) dengan keterangan “Ini hadiah purna tugas.... Mas Dim ujian seminar proposal semoga sukses dan lancar...”
Setidaknya keterangan
itu membuat legowo sejenak. Sungguh Bapak yang tidak muluk-muluk. Selamat menempuh suasana kehidupan yang baru, Pak!



Komentar
Posting Komentar